POLA OPERASI KETAHANAN RAKYAT SEMESTA

Posted: 16 Maret 2010 in makalah universitas

POLA OPERASI KETAHANAN RAKYAT SEMESTA

  1. A. LATAR BELAKANG

Terbentuknya suatu negara dilatarbelakangi oleh perjuangan seluruh bangsa. Seperti bangsa indonesia sudah lama menjadi incaran banyak negara karena potensi besar dari wilayahnya yang luas dengan kekayaan alam yang berlimpah. Kenyataannya ancaman tidak hanya dari luar tetapi juga  dari dalam terbukti, setelah perjuangan bangsa indonesia tercapai dengan kesatuan Republik Indonesia ancaman dan gangguan dari dalam timbul dari yang bersifat kegiatan fisik sampai yang ideologis. Meskipun demikian indonesia memegang satu komitmen bersama untuk tetap tegaknya suatu negara kesatun Indonesia. Dorongan kesadaran bangsa yang dipengaruhi kondisi dan oleh letak geografis dengan dihadapkan pada lingkungan dunia yang serba berubah akan memberiakan motivasi dalam menciptakan suasana damai, tertib dalam tatanan nasional dan hubungan Internasional yang serasi.

Gelombang demokratisasi yang melanda Indonesia sejak akhir dekade 1990-an membawa pula perubahan dalam ranah militer. Selama 32 tahun, militer telah menjadi salahsatu kekuatan politik yang cukup berpengaruh dalam konstelasi kekuasaan di Indonesia. Dengan pola pembangunan yang menekankan pada pertumbuhan ekonomi, maka paradigma pertahanan dan keamanan (security and defense) menjadi alasan kuat bagi masuknya militer dalam politik di Indonesia.

Orientasi untuk mempertahankan kesatuan (unity), keamanan (security), dan stabilitas (stability) menjadi landasan bagi kalangan militer (ABRI dan kemudian TNI sekarang) untuk berperan dalam pembangunan nasional. Dengan kondisi geografis, sosial, dan kultural yang sangat heterogen, Indonesia rentan dengan ancaman instabilitas dan disintegrasi. Padahal, pertumbuhan ekonomi yang menjadi indikator utama pembangunan nasional memerlukan kondisi stabilitas. Di sinilah militer berperan sebagai alat integrasi nasional.

Dalam satu dekade terakhir, isu sektor keamanan tidak hanya dimonopoli oleh negara dan militer, tetapi juga menjadi bagian dari isu global governance, seperti halnya demokratisasi, hak asasi manusia, lingkungan, dan gender. Kekuatan masyarakat sipil transnasional juga ikut menaruh perhatian pada isu sektor pertahanan negara. Meluasnya perhatian, baik dari kalangan eksternal maupun internal mendorong munculnya paradigma baru tentang sektor pertahanan negara yang menempatkan sektor tersebut dalam area pembangunan yang lebih luas. Paradigma tersebut mengedepankan 2 (dua) fokus perhatian. Pertama, sektor pertahanan negara harus lebih ditekankan pada keamanan manusia (human security) dibandingkan pertahanan teritorial secara eksklusif. Kedua, keamanan manusia harus dicapai dengan paradigma pembangunan manusia berkelanjutan (sustainable human development) untuk menggeser paradigma keamanan yang menggunakan persenjataan dan militer.

Implikasi dari perubahan paradigma tersebut adalah terjadi pergeseran pemahaman dan lingkup peran militer dalam konteks demokratisasi. Pertahanan negara bukanlah bidang yang berdiri sendiri, tetapi harus diintegrasikan dalam agenda pembangunan untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Dengan kata lain, pendekatan keamanan (security approach) harus disatukan dengan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach). Urusan pertahanan negara yang ditangani dengan pendekatan militeristik atau represif melalui penggunaan senjata sudah tidak relevan lagi, karena akan kontradiktif dengan orientasi kesejahteraan rakyat yang ingin dicapai.

Perubahan paradigma tersebut turut berpengaruh terhadap konsep sistem pertahanan negara, yang semula menekankan pada upaya mempertahankan stabilitas teritorial, kemudian bergeser pada upaya pemberdayaan wilayah. Konsep tersebut termuat dalam UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI, yang dikenal dengan konsep pemberdayaan wilayah pertahanan. Namun, bagaimana operasionalisasi konsep tersebut hingga sekarang belum jelas. Demikian pula, bagaimana pembagian peran antara pemerintah dan militer dalam pemberdayaan wilayah pertahanan juga masih samar-samar. Kedua isu inilah yang menjadi ‘pekerjaan rumah’ bagi kita untuk didiskusikan dan dicarikan alternatif solusinya.

Mencari Titik Temu dalam Pemberdayaan Wilayah

Secara konseptual, transisi demokrasi memang mensyaratkan adanya perubahan peran politik militer. Dalam konsep demokrasi, kekuatan sipil haruslah menjadi kekuatan utama yang menentukan kebijakan-kebijakan politik negara. Militer tetap diperlukan, terutama untuk menjaga stabilitas wilayah negara. Pemikiran inilah yang kemudian dijabarkan dalam UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI, yang menegaskan bahwa TNI memiliki tugas pokok untuk melaksanakan operasi militer dalam keadaan perang dan operasi militer dalam keadaan damai. Tugas yang pertama tentunya menuntut profesionalisme TNI, baik dari sisi kapabilitas prajuritnya maupun dari sisi kapasitas lembaganya. Sementara tugas yang kedua menuntut adanya kerjasama antara TNI dengan unsur pemerintah dan unsur kemasyarakatan lainnya.

  1. B. PEMBAHASAN
    1. C. KESIMPULAN

POKOK -POKOK KONSEPSI KETAHANAN NASIONAL

1.1 Konsepsi Dasar Ketahanan Nasional

Manusia sebagai salah satu jenis makhluk Tuhan pertama-tama berusaha mempertahankan eksistensi dan kelangsungan hidupnya (survival). Dalam rangka tersebut ia memenuhi keperluan hidupnya dari yang paling pokok sampai yang paling mutakhir, baik bersifat materi maupun kejiwaan. Untuk keperluan tersebut manusia hidup berkelompok (Home Socius) dan memperkaya diri dengan alat peralatan penolong (home sapiens) serta menghuni suatu wilayah tertentu yang dibinanya dengan kemampuan dan kekuasaan (zoon politicon). Secara Antropologi-Budaya, manusia merupakan makhluk Tuhan tersempurna karena pada manusia selain kehidupan ia mempunyai kemampuan berfikir (akal) serta keterampilan dan karenanya lahirlah manusia budaya atau manusia berbudaya. Sebagai manusia budaya ia mengadakan hubungan dengan alam sekitarnya di dalam usaha mempertahankan eksistensi dan kelangsungan hidupnya. Kita mengenal hubungan tersebut sebagai berikut :

Ø      Manusia – Tuhan – Agama / Kepercayaan

Ø      Manusia – Cita-cita – Ideologi

Ø      Manusia – Kekuasaan/Kekuatan – Politik

Ø      Manusia – Pemenuhan Keperluan – Ekonomi

Ø      Manusia – Penguasaan/Pemanfaatan Alam – Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Ø      Manusia – Manusia – Sosial

Ø      Manusia – Rasa Keindahan – Kesenian (kebudayaan sempit)

Ø      Manusia – Rasa Aman – Hankam

Perangkat hubungan tadi merupakan bidang kehidulpan manusia budaya atau kebudayaan manusia yang berlangsung di atas bumi dengan memanfaatkan segala kekayaan alam yang dapat dicapai dan dijangkaunya dengan menggunakan kemampuannya. Manusia bermasyarakat untuk dapat memenuhi keperluannya yaitu kesejahteraan dan keselamatan serta keamanannya. Oleh karena itu, ketahanan nasional hakekatnya merupakan suatu konsepsi di dalam pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan serta serta keamanan di dalam kehidupan nasional. Kehidupan nasional tersebut dapat dibagi di dalam beberapa aspek sebagai berikut :

* Aspek Alamiah (TRIGATRA) yang meliputi :

F     Posisi dan lokasi geografi negara

F     Keadaan dan kekayaan alam

F     Keadaan dan kemampuan penduduk

* Aspek Sosial / Kemasyarakatan (PANCA GATRA) yang meliputi :

–          Ideologi

–          Politik

–          Ekonomi

–          Sosial – Budaya

–          Militer Hankam

Antara TRIGATRA dan PANCA GATRA itu terdapat hubungan timbal balik yang erat dinamakan hubungan (korelasi) dan ketergantungan (interdependensi). Oleh karena itu, TRI GATRA dan PANCA GATRA merupakan suatu kesatuan yang bulat dan utuh yang dinamakan ASTA GATRA.

1.2 Tujuan Ketahanan Nasional

Tujuan Ketahanan Nasional adalah untuk meningkatkan kesejahteraan bersama seluruh manusia dan membina daya kekuatan serta kemampuan sendiri untuk menjamin hari depan negara dan bangsa. Jadi, tujuan Ketahanan Nasional bukanlah untuk menanamkan rasa permusuhan terhadap suatu negara atau kelompok negara tertentu.

Selain itu, Ketahanan Nasional bertujuan mementingkan konsultasi dan saling menghargai di dalam pergaulan hidup serta menjauhi antagonisme dan konfrontasi. Intinya, Ketahanan Nasional diharapkan dapat dipakai di samping konsepsi power politics.

1.3 Ketahanan Astra Gatra

a. Posisi dan Lokasi Geografi Negara

Posisi dan lokasi geografi suatu negara dapat memberikan petunjuk mengenai tempatnya di atas bumi yang memberikan gambaran tentang bentuk ke dalam dan bentuk ke luar.

Ada dua jenis negara yang mempunyai ciri khusus berkenaan dengan lokasinya, yaitu :

1) Negara dikelilingi daratan (Land locked country)

Lingkungan negara demikian bersifat serba daratan atau sarwa benua. Ciri sarwa benua itu mempengaruhi dan menentukan cara pandang negara yang bersangkutan di segala bidang kehidupan nasionalnya. Contoh : Laos, Swiss, dan Afghanistan.

2) Negara dikelilingi lautan

– Negara Kepulauan (Archipelago State)

– Negara Pulau (Island State)

b. Keadaan dan Kekayaan Alam

Kekayaan alam suatu negara adalah segala sumber dan potensi alam yang didapatkan di bumi, di laut, dan di udara yang berada di wilayah kekuasaan suatu negara.

Hidup berkembang biak dan mempertahankan diri dengan cara memanfaatkan alam dan kekayaan yang didapat di tanah airnya merupakan naluri dan fungsi utama semua makhluk Tuhan. Setiap bangsa wajib mempersiapkan potensi alamnya sederajat dengan kemampuan bangsa lain, agar bentrokan ekonomi dan budaya di dunia modern ini sejauh mungkin dapat dihindari. Karena itu, di dalam pemanfaatannya tidak dapat dielakkan adanya ketergantungan antar negara di bidang sumber daya alam (International Interdependency of Natural Resources) yang dapat menimbulkan problem hubungan internasional.

c. Keadaan dan Kemampuan Penduduk

Penduduk adalah sekelompok manusia yang mendiami suatu tempat atau wilayah. Adapun faktor penduduk yang mempengaruhi ketahanan Nasional adalah sebagai berikut :

–        Faktor yang mempengaruhi jumlah penduduk

–        Faktor yang mempengaruhi komposisi penduduk

–        Faktor yang mempengaruhi distribusi penduduk


d. Ketahanan di Bidang Ideologi

Ideologi adalah perangkat prinsip pengarahan (guiding principles) yang dijadikan dasar serta memberikan arah dan tujuan untuk dicapai dalam melangsungkan hidup dan kehidupan nasional suatu bangsa dan negara.

Ketahanan Nasional di bidang ideologi dapat diartikan sebagai kondisi dinamik suatu bangsa, berisi keuletan dan keteguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional, di dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan kehidupan ideologi suatu bangsa dan negara.

e. Ketahanan di Bidang Politik

Politik dalam ilmu pengetahuan senantiasa dihubungkan dengan kekuatan atau kekuatan yang menjadi pusat perhatiannya.

Masalah politik berada di dalam konteks negara, karena kekuasaan di dalam suatu negara berpusat pada pemerintahan negara. Oleh karena itu, perjuangan memperoleh kekuatan dalam pemerintahan terkadang berubah menjadi perjuangan menguasai pemerintah.

Pengertian Ketahanan Nasional di bidang Politik diartikan sebagai “kondisi dinamik suatu bangsa, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan pengembangan kekuatan nasional, di dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan baik yang datang dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan kehidupan politik suatu bangsa dan negara”.

f. Ketahanan di Bidang Ekonomi

Ekonomi adalah segala kegiatan pemerintah dan masyarakat di dalam pengelolaan faktor produksi yaitu bumi, sumber alam, tenaga kerja, modal, teknologi dan management di dalam produksi serta distribusi barang dan jasa demi kesejahteraan rakyat, baik fisik material maupun mental spiritual.

Faktor yang mempengaruhi Ketahanan Nasional di bidang ekonomi berupa tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan terhadap kelangsungan ekonomi suatu bangsa pada hakikatnya ditujukan kepada faktor produksi dan pengolahannya. Oleh karena itu, pembinaan ekonomi pada dasarnya merupakan penentuan kebijakan ekonomi dan pembinaan faktor produksi serta pengolahannya di dalam produksi dan distribusi barang dan jasa baik di dalam negeri maupun dengan luar negeri.

g. Ketahanan di Bidang Sosial-Budaya

Istilah Sosial-budaya di dalam Ilmu Pengetahuan menunjuk kepada dua segi utama dari kehidupan bersama manusia, yaitu segi kemasyarakatan dan segi kebudayaan. etiap masyarakat memiliki 4 unsur penting bagi eksistensinya, yaitu: Struktur Sosial, Pengawasan Sosial, Media Sosial, dan Standar Sosial.

h. Ketahanan di Bidang Pertahanan-Keamanan

Pertahanan keamanan adalah daya upaya rakyat semesta dengan angkatan bersenjata sebagai inti dan merupakan salah satu fungsi utama pemerintah dalam menegakkan ketahanan nasional dengan tujuan mencapai keamanan bangsa dan negara serta keamanan perjuangannya. Hal itu dilaksanakan dengan menyusun, mengerahkan dan menggerakkan seluruh potensi dan kekuatan masyarakat dalam seluruh bidang kehidupan nasional secara terintegrasi dan terkoordinasi.

1.4 Bentuk dan Hakikat Ketahanan Nasional

Pada hakikatnya ketahanan nasional adalah kemampuan dan ketangguhan suatu bangsa untuk dapat menjamin kelangsungan hidupnya menuju kejayaan bangsa dan negara. Untuk dapat memungkinkan berjalannya Pembangunan Nasional yang selalu harus menuju ke tujuan yang ingin dicapai dan agar dapat secara efektif dielakkan hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan yang timbul, maka perlu dipupuk terus menerus Ketahanan Nasional yang meliputi segala aspek kehidupan.

Penyelenggaraan Ketahanan Nasional menggunakan pendekatan kesejahteraan nasional dan keamanan nasional. Kesejahteraan yang hendak dicapai untuk mewujudkan Ketahanan Nasional adalah kemampuan bangsa menumbuhkan dan menyumbangkan nilai-nilai nasionalnya menjadi kemakmuran sebesar-besarnya yang adil dan merata, rohaniah dan jasmaniah. Sedangkan keamanan yang mewujudkan ketahanan nasional adalah kemampuan bangsa melindungi eksistensinya dan nilai-nilai nasionalnya terhadap ancaman dari dalam maupun dari luar.

Pengaturan dan penyelenggaraan Kesejahteraan Nasional menggunakan tiap-tiap gatra Asta Gatra, demikian pula untuk keamanan nasional. Bergantung kepada sifat-sifat gatranya, maka gatra yang satu mempunyai peranan :

· Yang sama besar untuk kesejahteraan maupun keamanan

· Yang lebih besar kepada kesejahteraan daripada keamanan

· Yang lebih besar kepada keamanan daripada kesejahteraan

Untuk mendapatkan hasil Ketahanan Nasional yang diinginkan, maka harus diusahakan penilaian kualitatif dan kuantitatif atas perwujudan kesejahteraan dan keamanan oleh tiap-tip0a gatra.

1.5 Sifat-sifat Ketahanan Nasional

1) Manunggal

Antara Trigatra dan Panca Gatra harus bersatu (integratif). Sifat integratif ini tidak dapat diartikan mencampuradukkan, tetapi integrasi dilaksanakan secara serasi dan selaras.

2) Mawas ke Dalam

Ketahanan Nasional diarahkan kepada diri bangsa dan negara itu sendiri, karena bertujuan mewujudkan hakikat dan sifat nasionalnya sendiri.

3) Berkewibawaan

Ketahanan Nasional sebagai hasil pandangan yang bersifat “Manunggal” tersebut mewujudkan kewibawaan nasional yang harus diperhitungkan oleh pihak lain dan mempunyai daya pencegah (deterent). Makin tinggi tingkat kewibawaan, makin besar daya pencegahnya.

4) Berubah menurut Waktu

Ketahanan Nasional suatu bangsa tidaklah tetap adanya. Ia dapat meningkat atau menurun dan bergantung pada situasi dan kondisi bangsa itu sendiri.

5) Tidak membenarkan Sikap dan Kekuasaan dan Adu Kekuatan

Kalau konsep adu kekuasaan dan adu kekuatan bertumpu pada kekatan fisik, maka ketahanan nasional tidak mengutamakan kekuatan fisik saja, tetapi memanfaatkan daya dan kekuatan lain, seperti kekuatan moral suatu bangsa.

6) Percaya pada Diri Sendiri (Self Confidence)

Ketahanan Nasional dikembangkan dan ditingkatkan berdasar sikap mental percaya pada diri sendiri.

7) Tidak Bergantung pada Pihak Lain (Self Relience)

Kebanyakan negara berkembang merupakan bekas daerah jajahan yang masih dipengaruhi mental kolonial dan rasa ketergantungan kepada bekas penjajahnya. Sikap mental demikian harus dikikis habis dan sebagai gantinya ditumbuhkan sikap mental yang berkepercayaan pada diri sendiri yang patriotik dan nasionalistik tanpa menjerumuskan diri ke dalam fanatisme dan chauvinisme (nasionalisme yang sempit).

Jadi Pola operasi ketahanan Nasional sangat diperlukan untuk menjaga keutuhan dan kesatuan suatu bangsa oleh karena itu maka suatu bangsa atau negara harus mempunyai ketahanan yang kokoh agar bangsa dan negara  aman serta damai agar  senantiasa rakyat merasa aman dan nyaman untuk melakukan kegiatan. . Untuk dapat memungkinkan berjalannya Pembangunan Nasional yang selalu harus menuju ke tujuan yang ingin dicapai dan agar dapat secara efektif dielakkan hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan yang timbul, maka perlu dipupuk terus menerus Ketahanan Nasional yang meliputi segala aspek kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA

Kaelan ; 2002 ; Pendidikan Kewarganegaran ; Paradigma ; Yogyakarta.

JM, Tatang ; 2008 ; Pokok-Pokok Konsepsi Ketahanan Nasional ; www. Blog. WordPress.com.

Presiden Republik Indonesia ; 1982 ; Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia ; lembaran negara dan tambahan lembaran negara tahun 1982 yang telah dicetak ulang ; Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s