Hubungan KB dengan Tenaga Kerja ?

Posted: 16 Maret 2010 in makalah universitas

KEMISKINAN, KETIDAKMERATAAN DAN PERTUMBUHAN EKONOMI
Negara berkembang di Asia yang termasuk berpendapatan rendah atau miskin, dilihat dari posisinya di bawah garis kemiskinan secara nasional maupun internasional yaitu berpendapatan di bawah 1 dolar per hari, pendapatan kotor (gross domestic product/GDP) per kapita sebagai indikator pembangunan ekonomi dan menghasilkan ukuran perbedaan pendapatan antar kelompok populasi dengan pendapatan terendah dan tertinggi. Proporsi penduduk suatu negara yang berada di bawah garis kemiskinan bervariasi, dari 9 persen di Cina sampai dengan 46 persen di Laos. Di Indonesia, pada tahun 1998, terdapat 17 persen penduduk yang erbada di bawah garis kemiskinan. Proporsi negara dengan pendapatan di bawah 1 dolar per hari juga bervariasi, mulai dari di bawah 2 persen di Thailand sampai dengan lebih dari 50 persen di Nepal, sedangkan di Indonesia hanya 8 persen. Selisih antara dua ukuran itu, mencerminkan besarnya variasi setiap negara mendefinisikan kemiskinan di negaranya sendiri. Data yang ada juga menunjukkan adanya kaitan antara mengurangi kemiskinan dengan pembangunan ekonomi. Negara dengan GDP tinggi seperti Malaysia dan Thailand cenderung sedikit proporsi penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. Kontrasnya, negara dengan GDP per kapita rendah seperti Nepal, Laos, Vietnam dan Bangladesh mempunyai proporsi penduduk miskin yang besar.
Perbandingan pendapatan antara penduduk termiskin dengan penduduk terkaya menunjukkan variasi bermakna dari ketidakmerataan pendapatan di Asia. Pembangunan ekonomi yang relatif lebih tinggi di Malaysia dan Thailand berhubungan dengan perbedaan jauh antara kaya dan miskin. Kontrasnya, kejadian tidak meratanya pendapatan sangat rendah terjadi di negara Asia Selatan. Negara yang berada pada peringkat menengah GDP per kapitanya justru menunjukkan variasi besar dari ketidakmerataan pendapatan.
Kecenderungan sejak tahun 1970 di Thailand dan Sri Lanka menunjukkan bahwa tingginya tingkat pertumbuhan dapat membantu penduduk miskin daripada meningkatkan ketidakmerataan. Tahun 1970-an, pendapatan per kapita relatif sama pada 2 negara itu. Perbedaan pendapatan lebih besar di Thailand dan lebih besar lagi sampai 20 tahun kemudian. Tahun 1990, 20 persen penduduk termiskin di Thailand mendapatkan 4 persen dari total pendapatan, dibandingkan dengan 9 persen untuk kelompok yang sama di Sri Lanka. Karena pertumbuhan ekonomi Thailand lebih cepat, tahun 1990, 20 persen penduduk termiskin berpendapatan rata-rata 45 persen (atau 61 dolar per tahun) daripada Sri Lanka yang hanya 42 dolar per tahun.
INDIKATOR SOSIAL DARI KEMISKINAN
Ada tiga indikator sosial dari kemiskinan yaitu angka melek huruf orang dewasa, angka harapan hidup saat lahir dan malnutrisi anak. Secara umum, indikator itu cukup baik pada negara Asia Timur, diikuti oleh Asia Tenggara dan terburuk di Asia Selatan. Negara dengan tingkat kemiskinan tinggi biasanya menduduki peringkat rendah dari indikator sosial. Kecuali, Sri Lanka, Filipina dan Vietnam yang tinggi indikator sosialnya namun juga tinggi tingkat kemiskinannya. Sama halnya dengan ukuran pendapatan, informasi tingkat nasional mungkin menggambarkan besarnya ketidakmerataan di suatu negara. Pendidikan, kesehatan dan status gizi sangat bervariasi menurut jender, umur, pendapatan rumah tangga, suku, agama, kasta, desa/kota dan wilayah geografis. Ketidaksetaraan jender dalam indikator sosial merupakan gambaran di Asia Selatan (kecuali Sri Lanka), dan di Papua Nugini. Di India dan Indonesia, ada perbedaan tajam di indikator sosial di setiap wilayah. Di semua negara berkembang di Asia, indikator sosial cenderung lebih rendah di desa daripada di kota.
Kemiskinan dari Sudut Pandang Kependudukan
Dalam Visi Indonesia 2030 diharapkan Indonesia akan menjadi negara maju
dan sejahtera dengan beberapa pencapaian utama yakni tingkat pendapatan per
kapita penduduk sebesar 18.000 dolar AS.

Sedikitnya 30 perusahaan besar Indonesia masuk daftar 500 perusahaan
besar dunia, pertumbuhan ekonomi riil sebesar 7,62 persen, dan pertumbuhan
penduduk rata-rata hanya 1,12 persen per tahun. Mungkin target-target selama 23
tahun ke depan ini masih agak sulit terealisasi. Salah satu aspek yang masih
membuat pencapaian target-target tersebut terganjal adalah masih tingginya
jumlah penduduk miskin di Indonesia.

Tentunya untuk meningkatkan pendapatan per kapita penduduk Indonesia dari
3.361 dolar AS di tahun 2005 (Human Development Report, 2005) menjadi 18.000
dolar AS selama 23 tahun ke depan harus memerlukan kerja keras. Apalagi tren
selama beberapa dekade ini menunjukkan kenaikan jumlah penduduk miskin. Jika
selama 23 tahun ke depan tidak ada penanganan memadai maka bisa dibayangkan
berapa banyak jumlah penduduk miskin yang memenuhi kota-kota dan desa-desa di
Indonesia. Nampaknya, angka 18.000 dolar AS tidak berarti apa-apa bagi mereka
23 tahun kemudian.

Keberadaan penduduk miskin yang dianggap sebagai beban bagi pemerintah
dalam melaksanakan pembangunan masih belum menunjukkan penurunan yang
signifikan. Sebagai gambaran, pada 1984 jumlah penduduk miskin di Indonesia
mencapai angka 35 juta jiwa. Jumlah penduduk miskin kemudian menurun pada tahun
1993 menjadi 25,9 juta jiwa dan melejit hingga angka 49,5 juta jiwa 1998 (pada
masa krisis ekonomi) sampai kembali stabil di angka 35,68 juta jiwa di tahun
2002.

Program penanganan permasalahan kemiskinan pada dasarnya hams berpulang
kepada esensi dasar permasalahan kemiskinan. Kemiskinan di satu sisi dipandang
sebagai dampak permasalahan ekonomi makro, pertikaian politik, konflik sosial
di masyarakat, dan lain-lain. Namun di sisi lain kemiskinan pada dasamya juga
merupakan permasalahan kependudukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s