MEREBAKNYA POLIGAMI DI MASYARAKAT

Posted: 16 Maret 2010 in makalah universitas

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar belakang masalah

Poligami merupakan salah satu solusi untuk menghindari pergaulan bebas yang telah melanda dunia. Pada umumnya pembebasan pelacuran. Memusnahkan penyakit kelamin serta menjamin kebebasan, bertanggung jawab dalam cinta dan keibuan poligami diperbolehkan dalam Islam seperti yang tersurat pada Q.S 4 : 3 akan tetapi yang menjadi asas monogami.

  1. B. Permasalahan

Poligami bukan fenomena baru lagi, akan tetapi permasalahan dari dulu sampai sekarang merupakan hal yang kontroversi bagi kaum hawa. Seperti yang kita lihat di media massa, akhir-akhir ini banyak kaum hawa yang melakukan demonstrasi karena tidak sepakat dengan adanya poligami. Alasan mereka tidak sepakat dengan poligami, mereka takut tidak mendapat cinta dan kasih sayang yang penuh dari suami yang tercinta, disamping apriori mereka bahwa suaminya tidak akan mampu berbuat adil, yang lebih kronologis lagi pemerintah akan mengeluarkan undang-undang tentang larangan poligami untuk semua kalangan masyarakat.

Permasalahan akan selesai atau justru akan menimbulkan masalah baru. Kalau mereka mau membuka mata dan menengok sejarah, poligami sudah ada sejak ratusan tahun sebelum Islam datang.

  1. C. Tujuan masalah

Poligami bertujuan untuk memperbanyak keturunan, selain itu seorang yang melakukan poligami harus mempunyai rasa tanggung jawab kepada anak yatim. Selain itu dia juga harus memberikan perlindungan, bimbingan, didikan, memperbesar, dan mengarahkan anak-anak yatim, selain itu dia juga harus bisa berlaku adil pada istrinya.

  1. D. Sistematika karya tulis

BAB I   : Pendahuluan meliputi : latar belakang masalah, permasalahan, tujuan masalah, dan sistematika karya tulis.

Bab II    : Pembahasan masalah yang pertama meliputi : Apakah poligami itu? Yang di dalamnya menjelaskan makna poligami, yang meliputi makna poligami itu sendiri, yang di dalamnya menjelaskan tentang poligami menurut Prespektif agama, undang-undang poligami, hak-hak istri dalam poligami, alasan-alasan dan hikmah poligami, film yang mengandung cerita poligami, dampak poligami terhadap perempuan di Indonesia.

BAB II  : Penutup

Meliputi : Kesimpulan dan saran

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. APAKAH POLIGAMI ITU ?
    1. 1. Pengertian poligami

Poligami berasal dari bahasa yunani, kata tersebut merupakan penggalan kata “Poli” yang berarti banyak, kata “Gamein” berarti perkawinan. Apalagi kedua kata tersebut digabung maka akan mempunyai arti perkawinan yang banyak.

Sedangkan dalam Islam sendiri poligami mempunyai arti yang lebih dari satu dengan batasan umum yang diperbolehkan hanya sampai empat wanita.

Walaupun ada yang berpendapat sembilan atau lebih dari itu. Adapun perbedaan pembatasan kuantitas tersebut dikarenakan perbedaan interprestasi dalam memahami Nash Al Qur’an (Q.S. 4:3) dari perbedaan-perbedaan pembatasan tersebut yang paling valid dengan sejarah adalah empat wanita. Karena berdasarkan fakta tersebut historis ketika Harits Ibnu Qois mempunyai delapan istri masuk Islam ternyata nabi menyuruh memilih empat istri saja dan menceraikan yang lainnya.

  1. 2. Poligami menurut Perspektif Agama
    1. Hindu

Baik poligami maupun poliandri dilakukan oleh sekalangan masyarakat Hindu pada zaman dulu. Hinduisme tidak melarang maupun menyarankan poligami. Pada prakteknya dalam sejarah, hanya raja dan kasta tertentu yang melakukan poligami.

  1. Buddhisme

Yudaisme

Walapun kitab-kitab kuno agama Yahudi menandakan bahwa poligami diizinkan, berbagai kalangan Yahudi kini melarang poligami.

  1. Kristen

Gereja-gereja kristen umumnya, (Protestan, Katolik, ortodoks, dan lain-lain) menentang praktek poligami. Namun beberapa gereja memperbolehkan poligami berdasarkan kitab-kitab kuna agama Yahudi. Gereja katolik merevisi pandangannya sejak masa Paus Leo XIII pada tahun 1866 yakni dengan melarang poligami yang berlaku hingga sekarang.

  1. Mormonisme

Penganut Mormonisme pimpinan Joseph Smith di Amerika Serikat sejak tahun 1840-an hingga sekarang mempraktikkan, bahkan hampir mewajibkan poligami. Tahun 1882 penganut Mormon memprotes keras undang-undang anti-poligami yang dibuat pemerintah Amerika Serikat. Namun praktik ini resmi dihapuskan ketika Utah memilih untuk bergabung dengan Amerika Serikat. Sejumlah gerakan sempalan Mormon sampai kini masih mempraktekkan poligami.

  1. Islam

Islam pada dasarnya memperbolehkan seorang pria beristri lebih dari satu (poligami). Islam memperbolehkan seorang pria beristri hingga empat orang istri dengan syarat sang suami harus dapat berbuat adil terhadap seluruh istrinya (surat an-Nisa ayat 3 4:3). Poligami dalam Islam baik dalam hukum maupun praktiknya, diterapkan secara bervariasi di tiap-tiap negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Di Indonesia sendiri terdapat hukum yang memperketat aturan poligami untuk pegawai negeri, dan sedang dalam wacana untuk diberlakukan kepada publik secara umum. Tunisia adalah contoh negara arab dimana poligami tidak diperbolehkan.

  1. Undang-undang poligami

Dalam undang-undang perkawinan no. 1 th 1974 memuat tentang diperbolehkannya beristri lebih dari satu orang dengan memberikan syarat-syarat dan ketentuan yang tidak bertentangan syariat Islam demi keselamatan umat, karena mayoritas penduduk di Indonesia adalah Islam.

-          di dalam undang-undang tersebut digaris bawahkan sebagai berikut :

1)      Wajib mengajukan permohonan kepada pengadilan di tempat tinggalnya

2)      Pengadilan hanya memberi izin kepada suami yang beristri lebih dari satu orang apabila :

-          untuk mengajukan permohonan izin kepada pengadilan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

-          adanya persetujuan istri atau istri-istri

-          adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup istri dan anak-anak mereka

-          adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anak mereka

  1. Hak-hak istri dalam poligami

Poligami merupakan syariat Islam yang akan berlaku sepanjang zaman hingga hari akhir. Poligami diperbolehkan dengan syarat sang suami memiliki kemampuan untuk adil diantara para istri, sebagaimana pada ayat yang artinya :

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Poligami merupakan syariat Islam yang akan berlaku sepanjang zaman hingga hari akhir. Poligami diperbolehkan dengan syarat sang suami memiliki kemampuan untuk adil diantara para istri, sebagaimana pada ayat yang artinya :

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi; dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Berlaku adil dalam bermuamalah dengan isteri-isterinya, yaitu dengan memberikan kepada seseorang kekurangan hak yang dipunyainya dan mengambil dari yang lain kelebihan hak yang dimilikinya. Jadi adil dapat diartikan persamaan. Berdasarkan hal ini maka adil antara para istri adalah menyamakan hak yang ada pada istri dalam perkara-perkara yang memungkinkan untuk disamakan di dalamnya.

Adil adalah memberikan sesuatu kepada seseorang sesuai dengan haknya.

Apa saja hak seorang istri di dalam poligami?

Diantara hak setiap istri dalam poligami adalah sebagai berikut :

  1. Memiliki rumah sendiri

Setiap istri memiliki hak untuk mempunyai rumah sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat al ahzab ayat 33, yang artinya, “menetapkan kalian (wahai istri-istri Nabi) di rumah-rumah kalian. “dalam ayat ini Allah Azza wa Jalla menyebutkan rumah Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam dalam bentuk jamak, sehingga dapat dipahami bahwa rumah beliau tidak hanya satu.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menceritakan bahwa ketika nabi Shallahu ‘Alaihi wa sallam sakit menjelang wafatnya, beliau Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya di mana aku besok? Di rumah siapa?” Beliau  Shallahu ‘Alaihi wa Sallam menginginkan di tempat Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, oleh karena itu istri-istri beliau mengijinkan beliau untuk dirawat di mana saja beliau menginginkannya, maka beliau dirawat di rumah Aisyah sampai beliau wafat di sisi Aisyah. Beliau Shallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggal di hari giliran Aisyah. Allah mencabut ruh beliau dalam keadaan kepada beliau bersandar di dada Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.

Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan dalam kitab Al Mughni bahwasanya tidak pantas seorang suami mengumpulkan dua orang istri dalam satu rumah tanpa ridha dari keduanya. Hal ini dikarenakan dapat menjadikan penyebab kecemburuan dan permusuhan diantara keduanya. Masing-masing istri dimungkinkan untuk mendengar desahan suami yang sedang menggauli istrinya, atau bahkan melihatnya. Namun jika para istri ridha apabila mereka dikumpulkan dalam satu rumah, maka tidaklah mengapa. Bahkan jika keduanya ridha jika suami mereka tidur diantara kedua istrinya dalam satu selimut tidak mengapa. Namun seorang suami tidaklah boleh menggauli istri yang satu di hadapan istri yang lainnya meskipun ada keridhaan diantara keduanya.

Tidak boleh mengumpulkan para istri dalam satu rumah kecuali dengan ridha mereka juga merupakan pendapat dari Imam Qurthubi di dalam tafsirnya dan Imam Nawawi dalam majmu Syarh Muhadzdzab.

  1. Menyamakan para istri dalam masalah giliran

Setiap istri harus mendapat jatah giliran yang sama. Imam Muslim meriwayatkan hadits yang artinya Anas bin Malik menyatakan bahwa Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki 9 istri. Kebiasaan beliau Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bila menggilir istri-istrinya, beliau mengunjungi semua istrinya dan baru berhenti (berakhir) di rumah istri yang mendapat giliran saat itu.

Ketika dalam bepergian, jika seorang suami akan mengajak salah seorang istrinya, maka dilakukan undian untuk menentukan siapa yang akan ikut serta dalam perjalanan. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menyatakan bahwa apabila Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam hendak safar, beliau mengundi diantara para istrinya, siapa yang akan beliau Shallahu ‘Alaihi wa Sallam sertakan dalam safarnya. Beliau Shallahu ‘Alaihi wa Sallam biasa menggilir istrinya pada hari dan malamnya, kecuali Saudah bintu Zam’ah karena jatahnya telah diberikan kepada Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.

Imam Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa seorang suami diperbolehkan untuk masuk ke rumah semua istrinya pada hari giliran salah seorang dari mereka, namun suami tidak boleh menggauli istri yang bukan waktu gilirannya.

Seorang istri yang sedang sakit maupun haid tetap mendapat jatah giliran sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menyatakan bahwa jika Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam ingin bermesraan dengan istrinya namun saat itu istri Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang haid, beliau memerintahkan untuk menutupi bagian kemaluannya.

Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa’dy rahimahullah, ulama besar dari Saudi Arabia pernah ditanya apakah seorang istri yang haid atau nifas berhak mendapat pembagian giliran atau tidak. Beliau rahimahullah menyatakan bahwa pendapat yang benar adlaah bagi istri yang haid berhak mendapat giliran dan bagi istri yang sedang nifas tidak berhak mendapat giliran. Karena itulah yang berlaku dalam adat kebiasaan dan kebanyakan wanita di saat nifas sangat senang bila tidak mendapat giliran dari suaminya.

  1. Tidak boleh keluar dari rumah istri yang mendapat giliran menuju rumah yang lain

Seorang suami tidak boleh keluar untuk menuju rumah istri yang lain yang bukan gilirannya pada malam hari kecuali keadaan darurat. Larangan ini disimpulkan dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang menceritakan bahwa ketika Rasullullah Sallahu ‘Alaihi wa Sallam di rumah Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, tidak lama setelah beliau berbaring, beliau bangkit dan keluar rumah menuju kuburan Baqi sebagaimana diperintahkan oleh Jibril alaihi wa sallam. Aisyah Radhiyallahu ‘Anha kemudian mengikuti beliau karena menduga bahwa Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam akan pergi ke rumah istri yang lain. Ketika Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam pulang dan mendapatkan Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dalam keadaan terengah-engah, beliau Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bertnaya kepada Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, “Apakah engkau menyangka Allah dan Rasul-Nya akan berbuat tidak adil kepadamu?”

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah menyatakan tidak dibolehkannya masuk rumah istri yang lain di malam hari kecuali darurat, misalnya si istri sedang sakit. Jika suami menginap di rumah istri yang bukan gilirannya tersebut, maka dia harus mengganti hak istri yang gilirannya diambil malam itu. Apabila tidak menginap, maka tidak perlu menggantinya.

Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa’dy rahimahullah pernah ditanya tentang hukum menginap di rumah salah satu dari istrinya yang tidak pada waktu gilirannya. Beliau rahimahullah menjawab bahwa dalam hal tersebut dikembalikan kepada ‘urf, yaitu kebiasaan yang dianggap wajar oleh daerah setempat. Jika mendatangi salah satu istri tidak pada waktu gilirannya, baik waktu siang atau malam tidak dianggap suatu kezaliman dan ketidakadilan, maka hal tersebut tidak apa-apa. Dalam hal tersebut, urf sebagai penentu karena masalah tersebut tidak ada dalilnya.

  1. Batasan malam Pertama setelah pernikahan

Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu bahwa termasuk sunnah bila seseorang menikah dengan gadis, suami menginap selama tujuh hari, jika menikah dengan janda, ia menginap selama tiga hari. Setelah itu barulah ia menggilir istri-istri yang lain.

Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha mengkhabarkan bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahinya, beliau menginap bersamanya selama tiga hari dan beliau bersabda kepada Ummu Salamah, “Hal ini aku lakukan bukan sebagai penghinaan kepada keluargamu. Bila memang engkau mau, aku akan menginap bersamamu selama tujuh hari, namun aku pun akan menggilir istri-istriku yang lain selama tujuh hari.”

  1. Wajib menyamakan nafkah

Setiap istri memiliki hak untuk mempunyai rumah sendiri-sendiri, hal ini berkonsekuensi bahwa mereka makan sendiri-sendiri, namun bila istri-istri tersebut ingin berkumpul untuk makan bersama dengan keridhaan mereka maka tidak apa-apa.

Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa bersikap adil dalam nafkah dan pakaian menurut pendapat yang kuat, merupakan suatu kewajiban bagi seorang suami.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu mengabarkan bahwa Ummu Sulaim mengutusnya menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam dengan membawa kurma sebagai hadiah untuk beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian kurma tersebut untuk dibagi-bagikan kepada istri-istri beliau segenggam-segenggam.

Bahkan ada keterangan yang dibawakan oleh Jarir bahwa ada seseorang yang berpoligami menyamakan nafkah untuk istri-istrinya sampai-sampai makanan atau gandum yang tidak bisa ditakar/ditimbang karena terlalu sedikit, beliau tetap membaginya tangan pertangan.

  1. Undian ketika safar

Bila seorang suami hendak melakukan safar dan tidak membawa semua istrinya, maka ia harus mengundi untuk menentukan siapa yang akan menyertainya dalam safar tersebut.

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan bahwa kebiasaan rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bila hendak safar, beliau mengundi di antara para istrinya, siapa yang akan diajak dalam safar tersebut.

Imam Ibnu Qudamah menyatakan bahwa seorang yang safar dan membawa semua istrinya atau meninggalkan semua istrinya, maka tidak memerlukan undian.

Jika suami membawa lebih dari satu istrinya, maka ia harus menyamakan giliran sebagaimana ia menyamakan di antara mereka ketika tidak dalam keadaan safar.

  1. Tidak wajib menyamakan cinta dan jima’ di antara para istri

Seorang suami tidak dibebankan kewajiban untuk menyamakan cinta dan jima’ di antara para istrinya. Yang wajib bagi dia memberikan giliran kepada istri-istrinya secara adil.

Ayat “Dan kamu sekali-kali tidak dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin demikian” ditafsirkan oleh Ibnu Katsir  rahimahullah bahwa manusia tidak akan sanggup bersikap adil di antara istri-istri dari seluruh segi. Sekalipun pembagian malam demi malam dapat terjadi, akan tetapi tetap saja ada perbedaan dalam rasa cinta, syahwat, dan jima’.

Ayat ini turun pada Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sangat mencintainya melebihi istri-istri yang lain. Beliau Shallallahu  ‘Alaihi Wasallam  berkata, “Ya Allah inilah pembagianku yang aku mampu, maka janganlah engkau cela aku pada apa yang Engkau miliki dan tidak aku miliki, yaitu hati.”

Muhammad bin Sirrin pernah menanyakan ayat tersebut kepada Ubaidah, dan dijawab bahwa maksud surat An Nisaa’ ayat 29 tersebut dalam masalah cinta dan bersetubuh. Abu Bakar bin Araby menyatakan bahwa adil dan samalah cinta di luar kesanggupan seseorang. Cinta merupakan anugerah dari Allah dan berada dalam tangan-nya, begitu juga dengan bersetubuh, terkadang bergairah dengan istri yang satu namun terkadang tidak. Hal ini diperbolehkan asal bukan disengaja, sebab berada di luar kemampuan seseorang.

Ibnul Qoyyim rahimahullah menyatakan bahwa tidak wajib bagi suami untuk menyamakan cinta di antara istri-istrinya, karena cinta merupakan perkara yang tidak dapat dikuasai. Aisyah Radhiyallahu ‘Anha merupakan istri yang paling dicintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dari sini dapat diambil pemahaman bahwa suami tidak wajib menyamakan para istri dalam masalah jima’ karena jima’ terjadi karean adanya cinta dan kecondongan. Dan perkara cinta berada di tangan Allah Subhanahu wa ta’ala, Zat yang membolak-balikkan hati. Jika seorang suami meninggalkan jima’ karena tidak adanya pendorong kearah sana, anak suami tersebut dimaafkan. Menurut Imam Ibnu Qudamah rahimahullah, bila dimungkinkan untuk menyamakan dalam masalah jima’, maka hal tersebut lebih baik, utama, dan lebih mendekati sikap adil.

Penulis Fiqh Sunnah menyarankan, meskipun demikian hendaknya seorang suami memenuhi kebutuhan jima istrinya sesuai kadar kemampuannya.

Imam Al Jashshaash rahimahullah dalam Ahkam Al Qur’an menyatakan bawah, “Dijadikan sebagian hak istri adalah menyembunyikan perasaan lebih mencintai salah satu istri terhadap istri yang lain.”

  1. D. Alasan-alasan yang membolehkan dan hikmah poligami
    1. Alasan diperbolehkan poligami.

1)      Karena istri mandul, sedangkan keduanya atau salah satunya sangat mengharapkan keturunan.

2)      Apabila suami mempunyai kemampuan seksual yang tinggi, sedangkan istrinya sedangkan istrinya tidak akan mampu melayani sesuai dengan kebutuhannya.

3)      Apabila suami mempunyai harta yang banyak untuk membiayai segala kepentingan keluarga dari kepentingan istri sampai kepentingan anak-anak.

4)      Apabila jumlah wanita melebihi jumlah pria.

  1. Hikmah poligami ;

1)      Mengangkat harkat martabat wanita.

2)      Untuk keselamatan dan terjadinya sebuah keluarga.

3)      Untuk keselamatan masyarakat secara umum.

Poligami merupakan salah satu solusi untuk menghindari pergaulan bebas yang telah melanda dunia pada umumnya : pembebasan pelacuran, memusnahkan penyakit kelamin serta menjamin kebebasan bertanggung jawab dalam cinta dan keibuan.

  1. E. Film yang mengandung cerita poligami
    1. Berbagi suami
    2. Ayat-ayat cinta.
  1. F. Dampak poligami terhadap perempuan di Indonesia

Dampak yang umum terjadi terhadap istri yang suaminya berpoligami :

  1. Dampak psikologi : perasaan inferior istri dan menyalahkan diri karena mereka tindakan suaminya berpoligami adalah : akibat dari ketidakmampuan dirinya memenuhi kebutuhan biologis suaminya.
  2. Dampak ekonomi rumah tangga : ketergantungan secara ekonomi kepada suami. Walaupun ada beberapa suami yang memang dapat berlaku adil terhadap istri-istrinya, tetapi dalam prakteknya lebih sering ditemukan bahwa suami lebih mementingkan istri dan anak-anaknya terdahulu. Akibat istri yang tidak memiliki pekerjaan akan sangat kesulitan menutupi kebutuhan sehari-hari.
  3. Kekerasan terhadap perempuan; baik kekerasan fisik, ekonomi, seksual maupun psikologis. Hal ini umum terjadi pada rumah tangga poligami, walaupun begitu kekerasan juga terjadi pada rumah tangga monogami.
  4. Dampak hukum : seringnya terjadi nikah di bawah tangan (perkawinan yang tidak dicatatkan pada kantor catatasan sipil atau kantor urusan Agama) sehingga perkawinan dianggap tidak sah oleh negara, walaupun perkawinan tersebut sah menurut agama. Pihak peermpuan akan dirugikan karena konseksuensinya suatu perkawinan dianggap tidak ada, seperti hak waris dan sebagainya.
  5. Dampak keseahatan ; kebiasaan berganti-ganti pasangan menyebabkan suami/istri menjadi rentan terhadap penyakit menular seksual (PMS), bahkan rentan terjangkit virus HIV/AIDS.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s